Tips Atasi Bayi Susah Makan


Bagi ibu yang biasanya tidak mempunyai masalah dalam memberi makan bayinya, saat anak mempunyai kebiasaan baru yaitu menyemburkan atau mengemut makanan, inilah yang membuat ibu cemas. Acara memberi makan bayi jadi mengesalkan. Kekhawatiran muncul karena takut si anak kekurangan nutrisi.

Mekanisme Diet Menurut Dr. Sri Enggar Sp. A (K) Spesialis Penyakit dan Konsultan Masalah Anak, sesungguhnya ibu tidak perlu terlalu khawatir menghadapi perilaku bayi sepert itu. Katanya, hampir setiap bayi mengalami fase “sembur dan emut” seperti itu,kok. Perilaku bayi memuntahkan atau menyemburkan makanan bukan karena bayi kehilangan selera makan. Yang lebih mungkin terjadi adalah bayi sedang menempatkan diri dalam diet pemeliharaan tubuh. “Karena, jika bayi makan seperti yang ia lakukan di usia kurang dari satu tahun pertama hidupnya, ia akan mengalami kenaikan berat badan dengan kecepatan sama. Jika ini terjadi, tidak lama lagi bayi Anda akan lebih mirip bola ketimbang bayi,” ungkap Enggar, seraya tersenyum. Sebagian besar bayi mengalami kenaikan Berat Badan (BB) tiga kali BB lahir ketika ia berusia satu tahun. Misal, jika saat lahir bayi ber-BB empat kilogram, maka di akhir usia setahun BB-nya mencapai duabelas kilogram (3 X 4 kilogram). Pada tahun kedua bayi hanya menambahkan kira-kira seperempat dari berat lahirnya. Jadi, bayi yang lahir dengan BB empat kilo, pada tahun kedua hanya akan menambah BB-nya 1 kilogram (1/4 X 4 kilogram). Tak heran bila pertumbuhan BB bayi pada tahun kedua lambat. “Jadi menurunnya selera makan bayi saat ini adalah cara tubuh bayi menjamin adanya penurunan kenaikan berat badan,” ujar Enggar. Nah, setiap bayi memiliki perilaku berbeda-beda dalam fase ini. Ada bayi yang sama sekali tak mau membuka mulutnya saat disuapi. Ada yang mau memasukan makanan ke dalam mulut tetapi memuntahkan/menyemburkanya kemudian – sebetulnya tidak semua makanan dimuntahkan, karena pasti ada yang masuk. Ada juga bayi yang berusaha mengurangi jatah makannya dengan mengemut makanan lama-lama di mulut, sampai ibu atau pengasuh bosan, sehingga bayi tidak perlu menghabiskan seluruh isi piring, sebab “menyerah” pada suapan kelima atau tujuh – “Yang penting sudah banyak yang masuk,” alasan ibu. “Semua harus dihadapi orangtua dengan sabar, dan tidak perlu negative thinking atau sampai mencekoki bayi makanan segala, karena kalau itu yang terjadi malah tidak sehat karena dapat membuat bayi trauma,” saran Enggar. Selain faktor mekanisme diet, ada juga faktor lain yang dapat memicu perilaku bayi tersebut. Salah satunya adalah bertambahnya minat bayi terhadap dunia di sekitarnya. Saat ini jadwal makan justru terasa “sangat mengganggu” bayi, lantaran ia sebenarnya ingin terus bergerak, bukannya duduk manis untuk makan. Ada begitu banyak hal yang dapat dilakukan dan dapat dilihat, sehingga jadwal makan hanyalah menyita waktu. “Selain itu, di usia bayi menuju batita kemandirian bayi mulai tumbuh. Ini mempengaruhi reaksinya pada makanan yang disantapnya. Bayi yang sedang dalam proses berkembang menjadi batita memutuskan dialah yang menjadi tuan di meja makan, bukan orangtua atau pengasuhnya. Karena itu bayi mulai memilih makanan yang ingin dikonsumsi,” tutur Enggar. Dokter yang pratik di RSCM Jakarta ini melanjutkan, bisa saja kemarin bayi semangat manyantap bubur beras merah, tapi hari ini menolak mati-matian memakannya. Dalam keadaan ini sebaiknya orangtua mengikuti kemauan bayi dulu. Pastikan saja bayi mendapat makanan pengganti, misal, snacking bergizi dan susu. Toh, kebiasaan ini akan berlalu juga. Atau Memang Ada Masalah? Jika orangtua meragukan penolakan bayi terhadap makanan karena sebab psikologis di atas, Enggar tidak menyalahkan, memang ada juga kemungkinan bayi mengalami masalah atau gangguan fisik yang mempengaruhi minat makan. “Yang paling sering terjadi adalah karena tumbuh gigi, ” kata Enggar, terutama saat gigi geraham bayi tumbuh menembus gusi. Jika ini penyebabnya, kebiasaan bayi memuntahkan atau menyembur makanan akan disertai mood mudah marah, suka menggigit jari, mulut mengeluarkan ludah berlebihan, kadang disertai demam. “Pertumbuhan ini memang membuat rasa tidak enak pada bayi sehingga ia menolak makan. Sebaiknya periksakan kondisi ini pada dokter saat imunisasi bayi,” saran Enggar. Bayi yang sedang tidak enak badan seperti batuk-pilek juga bisanya melakukan aksi serupa. Sedang bila Anda mengkhawatirkan sebab lain yang lebih serius, misal, bayi mengalami problem susah menelan, sebaiknya mintalah pemeriksaan pada dokter, meski Enggar menyatakan hal ini kecil kemungkinannya, terutama jika dulunya bayi tidak pernah berulah demikian. “Satu hal yang saya tekankan, orangtua jangan menjadi emosi mengahadapi ulah bayi ini. Bila Anda tetap ingin ada makanan yang masuk ke mulut bayi lakukan trik-triknya. Jangan melakukan pemaksaan karena hanya akan menimbulkan problem makan yang kronis.” Trik Tangkal Sembur Ganti makanannya Beberapa makanan tampak dramatis saat disemburkan dari mulut bayi, misal, bubur, sereal, yoghurt. Tapi coba ganti dengan makanan berbentuk irisan kasar khusus untuk tumbuh gigi, seperti irisan wortel, pisang, ubi rebus, atau roti. Efek “seru” saat makanan disemburkan yang hilang, akan mengurangi setengah motivasi anak menyemburkan makanan. Beri kesempatan anak makan sendiri. Dengan makan sendiri anak akan terlalu sibuk untuk menyembur dan mengemut karena tugas barunya makan sendiri sangat menarik hatinya. Biarkan Sendirian Jika tidak ada “penonton” anak tidak akan mendapatkan kepuasan dari “pertunjukannya”, dan akan merasa enggan melakukannya. Letakkan makanan di hadapannya, dan sibukkan diri Anda. Jika Anda mendengar suara semburannya, jangan menoleh. Hentikan Acara Makan Dengan wajah dingin, beri anak peringatan tegas, “Jangan menyemburkan makanan”. Jika ia mengulang perbuatannya, ulangi peringatan. Jika ia mengulang lagi hingga tiga kali, segera singkirkan makanan. Anak akan segera mengetahui maksud Anda.

Sumber: Tabloid Ibu & Anak

Posted on Mei 23, 2011, in Kesehatan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: